Powered by Blogger.
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Dipa Santara

Blog ini berisi coretan yang penting dan tidak, sepertinya

Senja datang tanpa di undang di langit purwokerto yang hangat ini. Aku duduk didalam ruangan yang penuh dengan asap rokok di udara. Ditemani boys don’t cry dari The Cure yang mengisi indra pendengaranku. Sudah tak terhitung puntung rokok yang memenuhi asbak kotor di pojok ruangan. Tak terbayangkan pula seramai apa kepalaku dipenuhi pikiran-pikiran yang tak tahu akhirnya.
Hingga saat ini ak tak pernah suka berada dikeramaian, karena ditengah keramai terlalu banyak manusia yang berlomba-lomba untuk bersuara tentang hal-hal kosong. Kalimat penuh kekosongan yang berujung pada tanggapan kosong pula. Aku lebih suka berada dalam keadaan sepi, namun ramai akan pikiran yang terus bergumul didalam kepala. Atau berdua bersama manusia lain yang mengeluarkan kata-kata penuh kehidupan.
Sore ini, meskipun berdua didalam ruangan, aku lebih menikmati pikiranku dibanding ocehannya. Aku terus berpikir tentang diriku dan juga dirimu. Aku terlalu mencintai dirimu, namun juga mencintai diriku. Aku mencintai dirimu, hingga aku memiliki hasrat kuat untuk menjadikanmu teman hidupku, bahkan hingga tua nanti. Aku terlalu mencintai diriku, hingga aku tak berani mengungkapkan perasaanku kepada dirimu, yang sangat menggebu.
Sejak mengenal dirimu, pola hidupku mulai banyak berubah. Aku mulai mencoba dekat dengan tuhan, dengan melakukan berbagai ritual yang diwajibkannya, dan yang lebih gilanya lagi aku mulai memikirkan tentang diriku sendiri, tentang bertanggungjawab terhadap ibu dan adikku, hingga bertanggung jawab terhadap pasanganku, kelak dimasa depan.
Aku tidak bisa melepaskan pikiranku dari dirimu. Aku heran, kenapa hanya dalam waktu yang singkat aku bisa benar-benar terjerembab dalam lubang yang banyak orang sebut cinta. Tak sering kita bertemu, namun setiap bertemu, dirimu selalu mampu membuatku berpikir tentang kehidupan. Aku selalu bahagia, serta mengutuk diri sendiri atas keadaan tersebut.
Diawal kita bertemu untuk kau berbagi salah satu kisah hidupmu, kulihat matamu sayu dan air mata selalu siap leleh dari indra pengelihatanmu. Kau bercerita tentang masa lalu bersama dengan lelaki yang hingga saat ini masih kau cinta. Masa lalu yang indah hingga satu kejadian merusaknya. Dimana lelaki yang kau cinta itu, mengkhianati cinta yang kau jaga. Air matamu mulai leleh ketika kau mulai cerita tentang pengkhianatnnya, tak banyak yang bisa ku lakukan, aku hanya mendengar sambil beberapa kali memberikan tanggapan.
Tak terasa hari berlalu, ketika kau masih asik bercerita. Tepat satu jam pasca tengah malam, saudaramu datang untuk mengajak pulang. Sejujunya aku merasa bersalah, terjebak dalam keadaan itu, namun tak ada yang mampu ku perbuat. Sisa langit pekat itu diakhiri dengan kebahagian dalam diriku, namun aku tak tahu apa yang kau rasakan saat itu.
Siang setelah malam yang akan aku kenang dalam hidupku, kau bangun saat adzan zuhur menyapa. Kau bilang, akhirnya bisa tidur untuk waktu yang lama. Bagiku hal tersebut sangatlah berkesan, karena aku merasa mampu membuatmu beristirahat lebih lama dibanding biasanya. Tak lama berselang kau mengirimiku puisi, yang menandakan sebuah harapan, harapan untuk kau melanjutkan hidup, dan harapan untuku, yang aku asumsikan akan bisa menjalani hidup denganmu dalam sebuah ikatan yang lebih dari sekedar teman.
Kau membuatku berpikir bahwa akulah lelaki yang mampu mengobati sedikit luka hatimu. Saat itu, harapanku terbang ke awan, ditambah semangat yang kau berikan saat aku harus melakukan sesuatu yang membuat kita berpisah dalam waktu beberapa hari, disaat tahun baru. Aku menganggap moment saat itu sungguh berharga karena kita menjadi lebih hangat dalam hubungan yang memiliki persepsi berbeda di antara kita.
Pasca menghabiskan malam bersama dan puisi yang kau kirim, kita mulai lebih intens bertukar kabar, bahkan mulai merencanakan pertemuan-pertemuan selanjutnya, yang kita sebut sesi curhat. Aku ingat kau mengatakan “kangen nongkrong sama aku ya?” di sela-sela obrolan kita. Aku merasa itu adalah kalimat yang membuat aku merasa perasaanku direspon olehmu.
Malam tanggal 29 desember 2015, aku mengatakan bahwa aku tidak akan bisa menghubungimu selama kegiatanku berlangsung, lalu kau menjawab bahwa kau sedih, dan aku menjanjikan melanjutkan sesi curhat yang belum usai sebelumnya. Kau menyepakatinya dengan syarat yang sungguh mudah untukku. Dan kau sekali lagi menyemangati dan mengingatkanku untuk tidak meninggalkan solat, yang mana hingga saat ini, pesanmu tak pernah ku lupakan.
Tiga hari berlalu tanpa kabar darimu, dan aku masih tidak bisa melepaskan pikiranku darimu. Aku merasa sangat bahagia ketika acara usai, hal yang tidak pernah aku rasakan. Aku bahagia karena akan bisa intens lagi bertukar kabar denganmu. Namun, saat aku sampai di Purwokerto dan bisa bertukar kabar denganmu lagi, aku merasa kamu telah berubah. Tidak seperti seseorang yang aku kenal saat tahun belum berganti.
Aku mengabarimu dengan antusias, tidak lupa ucapan selamat tahun baru yang telah 16 jam 53 menit. Sayang kau hanya membalas ala kadarnya. Aku mulai membalas dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak penting, dan kau menjawab dengan kepura-puraan yang aku tidak tahu kenapa. Namun aku merasa ada sesuatu yang coba kau tutupi padaku.
Aku terus bertanya pada diri sendiri, tentang apa yang sedang terjadi, hingga aku memberanikan diri untuk bertanya langsung padamu. Kau menjawab dengan mengirimiku puisi yang aku tak mampu menerka makna di dalamnya. Aku hanya mampu menerka, tanpa kepastian mengenai persepsiku sendiri.
Ada satu kejadian yang membuatku terjun bebas ke bumi dan menghantam tanah kerasnya, setelah beberapa hari kau bawa terbang dengan segala ucapan dan tingkah lakumu. Saat itu temanku bercerita, tentang temannya yang mendekatimu dan kau meresponnya dengan baik. Katanya, kau sering mengingatkannya untuk solat subuh dan makan bersamanya. Cerita itu membuatku sadar, bahwa duniamu lebih luas, dibanding yang aku ketahui, dan aku mulai merasa bahwa aku harus membuat barrier untuk hatiku sendiri, agar tidak jatuh terjatuh terlalu dalam sesuatu yang kupersepsikan sebagai cinta.
Sejak saat itu, aku sadar bahwa yang aku inginkan bukan balasan terhadap perasaanku darimu, namun kebahagiaanmu, entah dengan siapapun. Aku hanya tidak ingin perempuan sekuat dan sepintar dirimu jatuh karena sesuatu yang irasional. Aku hanya ingin membuatmu bangkit dan menjalani hidup yang sudah sangat keras ini. Hanya itu yang diinginkan oleh pikiran rasionalku.
Dalam kondisi itu, aku merasa menjadi seseorang yang puitis. Aku mengirimu sebuah puisi yang terinspirasi dari film Dead Poet Society, tentang penyesalanku karena tidak memiliki keberanian untuk mengambil kesempatan dengan resiko yang dikandungnya. Kau membalas puisiku, dengan puisi pula, yang membuatku terbayang melayang, dan merubah pemikiranku sebelumnya. Aku ingin menjadi bagian hidupmu! Ucapku dalam hati. Sesuatu yang membuatku berani untuk mengajakmu keluar untuk makan dan merencanakan sesi curhat selanjutnya.
Siang itu, tidak penting tepatnya hari apa, kita bersepakat untuk makan bersama. Aku tidak menyangka jika waktu makan siang itu akan berubah jadi sesi curhat kedua. Aku memberikan pertanyaan sederhana, yang tidak kusangka bahwa jawabannya akan membuatku kehilangan kata-kata. Kau bercerita tentang masa-masa intership-mu di Jakarta, saat itu ternya banyak sekali lelaki yang berusaha mendekatimu, namun tak kau gubris. Hingga ada satu lelaki lulusan pesantren, yang bahkan kau tak ingat wajahnya, diam-diam mengagumimu.
Lelaki itu, memperlakukanmu dengan sangat hati-hati. Ia mulai menghubungimu dengan obrolan-obrolan garing, yang jarang kau gubris. Hingga satu hari, tepatnya di hari terakhir 2015, ia langsung mendatangi rumahmu untuk bertemu keluargamu. Sesuatu yang menurutku sangat gila, yang bahkan tidak pernah terlintas dikepalaku. Hal itu menciptakan kesan yang mendalam untukmu, hingga akhirnya kau merasa kehilangan ketika lelaki itu tidak menghubungimu dikemudian hari.
Kau mengatakan bahwa, lelaki itu seperti kiriman tuhan ditengah kegundahan hatimu pada mantanmu, yang masih saja tidak melepaskanmu. Lelaki itu mampu membuatmu tidak lagi memikirkan mantanmu untuk sesaat, diam-diam kau ternyata jatuh hati padanya. Hingga kau menyelesaikan ceritamu, aku hanya mampu terdiam, dan hanya bisa memalingkan wajah.
Saat itu aku berpikir, jangan-jangan puisi yang kau kirim padaku, ternyata menceritakan tentang dia. Sesuatu yang tidak pernah ku duga. Aku mulai merasa bahwa tidak mungkin untukku menjalin hubungan yang lebih serius denganmu. Aku terlalu naif dengan pikiranku untuk hidup bersama denganmu.
Aku memang pengecut, yang tidak berani mengungkapkan perasaanku padamu, karena aku takut kejujuran yang ku sajikan padamu akan merusak hubungan kita. Aku lebih baik tersiksa dalam diam, dibanding harus kehilanganmu, bahkan dalam hubungan sebagai teman.
Setelah sesi curhat yang tidak diduga itu, malamnya aku bertemu dengan seseorang yang sudah kau anggap sebagai saudara. Aku banyak bertanya tentang hidupmu dan menceritakan bagaimana hubungan kita. Setiap kata yang keluar dari bibir saudaramu, membuatku harus sabar dalam menjalin hubungan denganmu, namun juga membuatku merasa spesial untukmu. Karena banyak hal yang tidak kau sukai, ternyata ada padaku, namun kau tak pernah mempersalahkannya.
Aku pun bercerita bagaimana kamu membuatku terbayang melayang, namun juga menghampaskanku ke tanah keras. Aku juga bercerita ketika kita akan pulang setelah berjalan hingga isya datang, kau menyaranku untuk mencari perempuan yang mengerti jalan pikiran dan hidupku, serta menyayangi seorang ibu lebih dari apapun. Dan kau tahu, dua kriteria itu menunjuk pada dirimu. Dirimu yang mengatakan bahwa kita saling mengerti dalam kegilaan hidup, dirimu yang mencintai sosok ibu lebih dari apapun. Ya, kau menerbangkanku, lalu menghempaskanku, dan memberi harapan dan arah untuk memilihmu.
Saat ini, ketika senja mulai diganti dengan langit gelap diiringi rintik hujan. Di temani asap rokok yang masih menyesakan udara, aku mulai berpikir untuk lebih terbuka terhadap sesuatu, termasuk kamu. Sebelum bertemu denganku, hidupku biasa-biasa saja, dan mungkin kamupun juga, karena toh kita masih mampu menjalani hidup. Aku merasa, pertemuan kita seharusnya tidak membuat kita tidak baik-baik saja, dan aku pun harus bisa untuk tetap baik-baik saja.
Aku harus jujur, bahwa aku mulai mencintaimu lebih dari apapun. Disetiap ritual agamaku, bahkan aku jujur pada tuhan meminta alasan untuk beribadah bukan hanya karena kamu, namun karenaNya. Doa itu aku panjatkan dengan tulus, karena beribadah dengan alasan dirimu adalah seusatu yang salah.
Aku mencintaimu dan tak mampu membohongi diri agar bisa menjalin hubungan yang lebih serius denganmu. Tapi aku sadar, bahwa cintaku belum tentu mampu membuatmu bahagia. Kau perlu mencari kebahagiaanmu dengan jalan yang kau pilih sendiri. Kau harus bahagia di sisa hidupmu selanjutnya, tak peduli bersama siapa.
Mungkin aku terkesan terlalu hipokrit dengan pikiran-pikiran ini. Namun kau harus tahu, meskipun kau tidak bersamaku, aku tidak pernah kehilanganmu, karena aku bahkan tidak pernah memilikimu. Aku terlahir tanpa apa-apa, dan akan berpulang juga tanpa apa-apa, ya meskipun secara beruntung aku akan mendapatkan selembar kain putih untuk mengurangi dinginnya tanah bumi.
Seadainya hal itu terjadi, satu-satunya hal yang hilang hanyalah keinginanku untuk memilikimu. Keinginan yang dikarenakan persepsiku tentang cinta. Keinginanku untuk hidup bahagia bersamamu.
Hingga saat ini, kebahagiaan terbesarku adalah berhubungan dengan kamu, entah bagaimana nantinya. Karena bagaimanapun aku berpikir, hidup akan terus berjalan sesuai yang sudah digariskanNya. TanganNya mampu untuk merubah kehidupan seseorang dengan begitu cepatnya, seperti yang terjadi padaku saat berkenalan denganmu. Terlalu banyak rencana misterius dari alam semesta, yang tak pernah mampu aku raba.
Aku sadar bahwa, aku hanya selembar kertas putih dalam ruangan yang dipenuhi kertas berserak, yang bahkan keberadaanku tidak diketahui orang lain, namun aku memiliki keinginan bahwa kehadiranku mampu kamu terima, bahkan jika hanya sebagai teman.
Aku merasa bahwa aku tak mampu memberikan kebahagian yang sesungguhnya, meskipun aku mampu membuat kamu berpersepsi bahwa kamu bahagia, namun itu hanyalah persepsi yang bahkan bisa salah.
Hingga ketika adzan isya berkumandang, aku berusaha memantapkan diriku bahwa cukuplah aku menjadi sedikit warna untuk hidupmu, bahkan jika itu warna yang tidak kau pedulikan. Asal kau bahagia dengan warna-warna yang ada dihidupmu.
Terdengar hipokrit? Iya tentu saja, namun bukankah hidup ini memang penuh dengan kemunafikan yang diberi topeng kebenaran.
Aku memang munafik, namun aku hanya berusaha mendengarkan pikiran rasionalku dalam kondisi ini.

Purwokerto, 10 Januari 2016
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Mungkin ramai dan sepi tidak selalu masalah keadaan
Mungkin ramai dan sepi tidak selalu masalah kondisi
Ramai dan sepi adalah masalah diri
Diri yang tak terpatri emosi
Akan selalu merasa sendiri
Hingga riuhnya keramaian tak mampu membendung kesepian hati
Selalu ada kondisi biner di dunia manusia ini
Dimana ada yang merasa sepi ditengah ramai
Dan ada pula yang merasa ramai ditengah sepo
Ini hanya masalah persepsi
Dan bagaimana menanggapi kondisi

26 Januari 2014
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Akbar Restu fauzi 
10 Juni 2014

Cermin
Apakah ruang ini cermin massa rakyat?
Jika iya, maka wajar jika massa rakyat saat ini bermasalah
Jika iya, maka wajar jika banyak terjadi konflik ditengah massa rakyat atas nama agama
Jika iya, maka izinkanku untuk bersedih dan merenung

Bagaimana mungkin aku tidak bersedih dan merenung kawan!
Ketika aku sedikit mengkritisi permasalahan agama, yang menurut temanku bersifat doktrinasi
Aku di anggap kafir, di anggap tak mengerti agama
Mata-mata itu mengarah padaku
Seolah menghinaku, seolah meremehkan keimananku

Namun, bukan anggapan dan mata-mata itu yang membuatku bersedih dan merenung kawan
Tapi satu hal, aku sedih karena kelas ini adalah cerminan masyarakat diluar sana
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
SEJAK dikeluarkannya UU Pers No 40/1999 dan UU Penyiaran No 32/2002 yang menekankan pada kebebasan pers dan kebebasan bermedia, pertumbuhan media di Indonesia meningkat secara signifikan. Hal ini karena media sudah terlepas dari kungkungan hegemoni kekuasaan Orde Baru. Media mainstream dan media alternatif mulai bermunculan di kota besar hingga daerah kecil, namun tetap saja media mainstream yang mendominasi media di Indonesia.
Dalam pemikiran awam, mungkin tidak ada yang salah dengan kehidupan media mainstream di Indonesia. Bahkan masyarakat merasa bahwa media mainstream sudah menjalankan tugasnya dalam melaporkan permasalahan negara, seperti isu-isu korupsi dan kritik terhadap tata kelola negara. Namun tetap saja media mainstream tidak terlepas dari berbagai permasalahan terkait kebijakan program yang dilakukan media mainstream dan kinerja profesional media.
Hal ini bisa dilihat dari banyaknya keluhan terhadap KPI pada tahun 2013. Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Dr Judhariksawan SH MH, dalam Rapat Koordinasi Nasional KPI seluruh Indonesia mengatakan, selama 2013 KPI telah mengeluarkan 800 lebih teguran atas 9.960 lebih aduan masyarakt terkait konten program-program media mainstream. Hal ini membuktikan bahwa kebebasan media ternyata tidak serta merta menaikan kepuasan rakyat pada kinerja media mainstream.
Bahkan di masa-masa pesta demokrasi saat ini, arus informasi yang berkembang sudah tidak lagi memerhatikan kepentingan publik, namun lebih memerhatikan kepentingan internal media dan pemilik modalnya sendiri. Keberpihakan media mainstream ini menjadi semakin jelas dan nyata, ketika pemilik dan manajemen dari media mainstream itu menjagokan calon dari partai tertentu, atau bahkan jika pemilik medianya merupakan anggota partai tertentu. Hal yang perlu dicatat di sini adalah bahwa meskipun media mainstream telah memiliki kebebasan, namun tetap terbelenggu dalam kekuasaan modal.
Noam Chomsky, dalam buku Politik Kuasa Media mengatakan, penguasa dan pengusaha berpretensi menggunakan media untuk kepentingan sendiri, sehingga media bukan sebagai forum bebas bagi kebenaran, tetapi hanya menjadi alat untuk merekayasa masyarakat. Lebih jauh, Chomsky menyatakan, informasi di media hanyalah sebuah rekonstruksi tertulis atas suatu realita yang ada di masyarakat. Namanya rekonstruksi tentu sangat tergantung pada orang di balik media di dalam melakukan kerjanya.
Melihat argument Chomsky tentang media, maka tidaklah salah jika media pada dasarnya bersifat hegemonik terhadap masyarakat dengan berbagai informasinya dan program. Selanjutnya maka pandangan para penguasa dan pengusaha melalui media akan disebarkan secara terus-menerus, sehingga pandangan tersebut akan menjadi pandangan umum masyarakat, Pieree Bourdieu menyebutnya doxa. Masyarakat tidak akan menyadari hal tersebut, karena ini merupakan penjajahan atas nilai-nilai kehidupan, norma, maupun kebudayaan masyarakat. Hingga pada akhirnya berubah menjadi doktrin terhadap kelompok masyarakat dan yang didominasi secara sadar mengikutinya atau disebut hegemoni menurut Antonio Gramsci.
Melihat bagaimana pada akhirnya media tidak lagi mementingkan kebutuhan publik dalam memberikan informasi yang mendidik, tanpa intervensi kepentingan penguasa dan pengusaha, maka perlu lah media alternatif untuk memberikan masyarakat informasi yang mendidik serta terlepas dari kepentingan penguasa dan pengusaha. Media alternatif menjadi penting karena memang pada dasarnya bersifat counter hegemoni penguasa dan pengusaha.
Media alternatif pada dasarnya mampu menjadi wadah kaum intelektual dan masyarakat dalam menyuarakan aspirasinya terhadap pemerintah tanpa ada intervensi dari mana pun. Edward Said menyatakan, fungsi intelektual dalam masyarakat adalah menyuarakan sesuatu yang benar kepada yang berkuasa. Dosa paling besar seorang intelektual adalah apabila ia mengetahui bahwa penguasa sedang bermasalah, akan tetapi ia tidak mengatakannya. Maka dari itu media alternatif merupakan wadah yang ideal, karena terlepas dari kepentingan apapun.
Sebagai satu media alternative yang bisa dengan mudah ditemui adalah radio, baik yang bersifat komunitas ataupun lembaga yang tidak berorientasi pada laba. Dalam UU No 32 Tahun 2002 pasal 21 ayat 2, tercantum bahwa radio alternatif tidak dimaksudkan untuk mencari laba atau keuntungan atau tidak merupakan bagian perusahaan yang mencari keuntungan semata, dan bertujuan untuk mendidik dan memajukan masyarakat dalam mencapai kesejahteraan, dengan melaksanakan program acara yang meliputi budaya, pendidikan, dan informasi yang menggambarkan identitas bangsa.
Oleh karena itu, maka media alternatif, baik itu radio atau media yang lain, harus di masifkan kembali pergerakannya. Dalam melawan hegemoni penguasa dan pengusaha, sudah saatnya kita harus memakai media. Baik radio, majalah, web, dan lainnya, karena media merupakan wadah yang sangat efektif dalam membentuk opini publik masyarakat. Sehingga kita tidak hanya mengkritik media mainstream karena memberikan informasi yang tidak mendidik kepada masyarakat, namun kita juga bergerak dalam memberikan informasi yang mendidik bagi masyarakat, terlepas dari kepentingan apapun.(*)
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Rida Desiana.
9 Juni 2014.


Aku merasa kagum pada sosok mahasiswa yang memiliki pemikiran kritis. ia aktif di organisasi milik mahasiswa, dan masih banyak komunitas yang ia ikuti. kau tau? sosok laki-laki pintar ini begitu kritis menyoroti isu-isu kehidupan, mulai dari politik hingga wanita.

Bisa dibanyangkan bagaimana perasaanku ketika tau bahwa sosok bujang ini begitu indah,begitu cerdas, dan yang pasti begitu memikat hati. sosok yang ramah, berani, dan memiliki banyak teman, merupakan nilai 'lebih' yang ia miliki. kekagumanku semakin membuncah dalam hati dan pikiranku.

Awalnya tidak begitu kugubris kehadirannya. kalau dilihat secara kasat mata, tak ada yang istimewa darinya. satu yang harus diingat, aku sangat tertarik pada pria yang bisa memutar-balikkan otak dan pikiranku atas kecerdasan dan tingkah lakunya. "kau begitu cerdas", hanya kalimat ini yang berkali-kali muncul dipikiranku.

Ada yang membuatku sedih, kita tidak bisa lebih jauh berdiskusi tentang semua hal yang ada di pikiranku dan pikiranmu. kau banyak menyoroti kebobrokan sistem politik di negeri ini, kesetaraan hak dan kewajiban wanita, kurang baiknya sistem pendidikan, dan topik lainnya mengenai negara ini. hei, kau harus tau, - tanpa sengaja menyamakan persepsi- isi otak kita sama. apa yang selama ini menumpuk di pikiranku sama dengan apa yang kau resahkan. hanya saja kita berbeda. kau dengan mudah dan beraninya melakukan segala tindakan-tindakan nyata, sedangkan aku hanya bisa kupahami dan kumengerti untuk diriku sendiri. bukan maksudku untuk tidak menyebarkannya seperti kamu melakukannya, tapi sungguh aku tidak berani sepertimu. begitu kutau, kamu memliki keresahan hati yang sama terhadap negara ini, pikiranku lantas membayangkan betapa bahagianya jika aku bisa bertukar pendapat dan informasi dengan sesosok pria yang jauh lebih berani dan berpengalaman.

Tidak terlalu peduli aku dengan bagaimana kehidupan kisah kasih percintaanmu, siapa pacarmu saat ini, berada dimana dia, tertarikkah kau denganku; aku tidak terlalu peduli. yang kupedulikan ialah betapa bahagianya jika kita bisa saling bertukar pendapat. itu sudah cukup bagiku. terlebih jika... - ah, sudah. jangan terlalu banyak berharap, Rida.

kau kritis, aku suka.
temanmu banyak, aku suka.
kamu begitu mudah bergaul, aku suka.
pemikiranmu luas, aku suka.

Tapi sayang, aku harus sadar dengan keberadaan kita sekarang. kuingat dengan jelas begini kata-katamu,
"sayang sekali perjumpaan kita hanya sebentar"

Semoga kita bisa dipertemukan di lain waktu dan kesempatan
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Hidup memang seperti panggung sandiwara
Bagaimana kita hidup, hanya dilihat dari keseharian kita
Terkadang kita terlalu dangkal melihat hidup orang lain
Merasa kita lebih baik, karena mampu melakukan apa yang tidak bisa dilakukan manusia lain

Kepribadian manusia, tidakla terlepas dari tempaan belakang panggunya
Namun sayang, manusia lain terlalu sombong untuk sedikit melihatnya
Melihat apa yang menempa manusia itu
Melihat apa yang mempengaruhi kehidupan manusia itu
Melihat kehidupan tidak hanya dari luar saja
Karena hidup tidak mungkin berjalan begitu saja

                                                29 Mei 2014 Akbar Restu Fauzi 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Pada masa orde baru media merupakan alat Pemerintah untuk mempertahankan status quo, hal ini bisa dilihat dari konten dan isi yang ada didalam media saat itu, dimana konten yang ada didalam media didominasi oleh informasi-informasi yang memberikan citra baik pada Pemerintah. Namun setelah Soeharto lengser dan masa orde baru berakhir, kebebasan media dapat dirahkan kembali, setelah sebelumnya direnggut oleh Pemerintah. Puncaknya adalah saat Pemerintah pasca masa orde baru mengeluarkan UU Pers No.40/1999 dan UU Penyiaran 32/2002 , yang menekankan pada kebebasan pers dan kebebasan bermedia, oleh karena itu Undang-undang ini  menjadi tonggak meningkatnya jumlah media di Indonesia..
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

About me

About Me

Saya adalah mahasiswa yang percaya bahwa dunia akan berubah menjadi lebih baik.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • January 2016 (1)
  • February 2015 (1)
  • November 2014 (1)
  • June 2014 (2)
  • May 2014 (1)
  • January 2014 (1)
  • December 2013 (7)

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates